Entri Populer

Senin, 21 Februari 2011

Tuhan, Harta, dan Ketenaran

Tidak bisa dipungkiri keinginan untuk menjadi orang kaya yang berlimpah harta adalah keinginanan yang sering kali datang, mengganggu dan menggoda seluruh manusia. Impian untuk memiliki kemewahan dan kebanggaan. Sejauh ini nilai-nilai kesuksesan yang paling banyak dipahami manusia biasanya dikaitkan dengan God, Gold, dan Glory.  

Bagi seorang agamawan, kesuksesan erat kaitannya dengan tingkat kepatuhan pada doktrin agamanya. Bagi seorang pengusaha, barometer kesuksesan dilihat dari jumlah asset dan harta yang dimilikinya. Sedangkan bagi beberapa orang, kesuksesan dilihat dari tingkat dukungan, pujian dan berbagai penghargaan yang berhasil diraihnya. Misalnya, ketenaran seorang seniman tidak bisa menjadikannya hidup mapan dan kaya, meskipun seringkali karya seninya bisa bernilai ribuan bahkan jutaan dollar setelah dia meninggal. 

Saat ini, banyak beredar buku-buku panduan untuk meraih kesuksesan dan kekayaan. Seminar-seminarnya semakin sering dilaksanakan, meski dengan investasi yang hanya bisa dibayar oleh kalangan menengah ke atas. Bahkan beberapa MLM berhasil berkembang pesat dengan menawarkan ide percepatan meraih kebebasan financial.

Rasa iri, dengki, hasud, dan riya biasanya dikarenakan oleh gold dan glory, kebanyakan manusia bermimpi dan memiliki keinginan untuk menggenggam dunia beserta isinya. Emas yang sekarang diwakili oleh uang telah menjadi pokok kehidupan manusia modern, rasanya tidak mungkin kita hidup tanpa memiliki uang yang cukup. Uang telah menjelma menjadi sebuah motivator ulung bagi seluruh manusia modern dimana saja ia berada.

Rasulullah digambarkan sebagai orang yang sederhana namun beliau tidak menyenangi kemiskinan, karena kefakiran (kemiskinan) dekat dengan kekafiran. Rasulullah bukanlah orang miskin, beliau termasuk saudagar muda dan kaya, yang mampu melamar Khadijah dengan mahar yang sangat mahal pada saat itu (ada yang menyebutkan 20 ekor unta, 40 ekor unta muda, ditambah dengan sejumlah perhiasan emas). 

Khadijah pun adalah salah satu orang terkaya di Mekah, sehingga bisa dipastikan keluarga Rasulullah dan Khadijah adalah keluarga kelas atas menurut status ekonomi pada saat itu. Namun mereka tidaklah menjadikan hartanya sebagai sumber kebanggaan atau kesombongan, dan mereka mendidik keluarganya dengan kesederhanaan yang menakjubkan.

Sebuah doa dari rasulullah, Allahumma Inna Nas-alukal Huda Wat Tuqo Wal  'Affaafa Wal Ghina, Ya Allah, Yaa Tuhankami, sesungguhnya kami memohon petunjuk, Ketaqwaan, Pengendalian diri, dan Kekayaan. Urutan ini sangatlah mengesankan, karena menempatkan kekayaan setelah faktor-faktor lainnya.

Beberapa syariat ibadah dalam islam membutuhkan kekayaan untuk merealisasikannya, diantaranya, Infaq, zakat, shadaqoh dan rukun islam yang kelima, yaitu ibadah haji. Jika susunan doa diatas dikaitkan dengan rukun islam, kita akan menemukan kesesuaian urutan diantara keduanya.  

Pertama, Huda (petunjuk) sangat berkaitan dengan Syahadat, karena hanya orang-orang yang mendapat petunjuklah yang mampu bersyahadat. Kedua, ketaqwaan bisa dilihat dari kemampuan untuk mendirikan shalat. Ketiga, puasa adalah ibadah yang ditujukan untuk mengendalikan diri manusia (afaafa). Dan keempat, tidak mungkin bisa berzakat dan ibadah haji kalau kita tidak memiiki Ghina (harta) yang cukup.

Subhanallah, inilah dien yang lurus, tidak ada keraguan/pertentangan didalamnya.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar